20130320

Kecelakaan Bagi Orang Yang Shalat - Tafsir Surah Al-Maa'uun Ayat 4 - 5

Tafsir Departemen Agama Republik Indonesia


Dalam Tafsir Al-Quran Depag RI (Departemen Agama; sekarang menjadi Kementerian Agama) didapati ungkapan kata "Kecelakaan Bagi Orang Yang Shalat" pada Surah Al-Maa'uun Ayat 4 - 5. Celakalah bagi orang-orang yang mengerjakan sholat (salat) dengan tubuh dan lidahnya tidak sampai ke hatinya.

Surah Al-Maa'uun Ayat 4 - 5

Surat Al-Ma'un Ayat 5
Arti Dan Makna Kata "Saahuun/ Lalai"


فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ
Al Maa'uun 4 Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,

الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
Al Maa'uun 5 (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,

Dalam ayat-ayat ini Allah mengungkapkan satu ancaman yaitu celakalah orang-orang yang mengerjakan salat dengan tubuh dan lidahnya tidak sampai ke hatinya. Dia lalai tidak menyadari apa yang diucapkan lidahnya dan yang dikerjakannya oleh sendi anggotanya. Ia rukuk dan sujud dalam keadaan lengah, ia mengucapkan takbir tetapi tidak menyadari apa yang diucapkannya. Semua itu adalah hanya gerak biasa dan kata-kata hafalan semata-mata yang tidak mempengaruhi apa-apa, tidak ubahnya seperti robot.


Asbabun Nuzul Al Ma'un Ayat    4-5


Imam Ibnu Mundzir mengetengahkan sebuah hadis melalui Tharif bin Abu Thalhah yang bersumber dari Ibnu Abbas r.a. yaitu sehubungan dengan firman-Nya, "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat." (Q.S. Al-Maa'uun, 4) Ibnu Abbas r.a. menceritakan, bahwasanya ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang munafik; karena mereka selalu memamerkan salat mereka di hadapan orang-orang mukmin secara ria, sewaktu orang-orang mukmin berada di antara mereka. Tetapi jika orang-orang mukmin tidak ada, mereka meninggalkan salat, juga mereka tidak mau memberikan pinjaman barang-barang miliknya kepada orang-orang mukmin.
Celakalah orang yang mengerjakan salat hanya dengan tubuh dan lidah saja tetapi tidak sampai ke hatinya

Tafsir Al-Azhar Buya Hamka


"Maka kecelakaan akan didapati oleh orang-orang yang sembahyang." (ayat 4).

"Yang mereka itu dari shalatnya, adalah lalai." (ayat 5)

Dia telah melakukan sembahyang, tetapi sembahyang itu hanya membawa celakanya saja; karena tidak dikerjakannya dengan sungguh-sungguh. Tidak timbul dari kesadarannya, bahwa sebagai seorang Hamba Allah, sudah sewajamya dia memperhambakan diri kepada Allah dan mengerjakan sembahyang sebagaimana yang diperintahkan Allah dengan perantaraan NabiNya.

Saahuun; asal arti katanya ialah lupa. Artinya dilupakannya apa maksud sembahyang itu, sehingga meskipun dia mengerjakan sembahyang, namun sembahyangnya itu tidaklah dari kesadaran akan maksud dan hikmatnya.

Pernah Nabi kita s.a.w. melihat seorang sahabatnya yang terlambat datang ke mesjid sehingga ketinggalan dari sembahyang berjamaah, lalu dia pun sembahyang sendiri. Setelah dia selesai sembahyang, Nabi s.a.w. menyuruhnya mengulang sembahyangnya kembali. Karena yang tadi itu dia belum sembahyang. Dia belum mengerjakannya dengan sesungguhnya.

13 komentar:

  1. AssalamuLaiku warahomatullahi wabara katuh;
    Saya sangat terkejut dan tertarikdenganpe jelasan singkatdari surat al maun.Pada kesempatan yang baik ini perkenankan saya untuk mendapatkan uraian danpenjelasan lengkap tentang asbabun nuzul dari surat al maun tersebut. tks

    Salamdari

    H.M.Sukarni

    BalasHapus
  2. kenalin diri sendiri terlebih dahulu, pelajari tentang siapa kita, cari tau makna2 diri kita, cari tau makna kiblat, krn kakbah itu bukan kiblat sesungguhnya... coba klo kakbah tu di boom amerika.. mau kemana arah sholat kita coba?? kn kakbahnya ud hilang... kakbah tu cuma lambang tuk menyatukan umat... silahkan baca2 buku tentang itu semua hal itu dan lainnya yg berkaitan

    BalasHapus
  3. klo setahu saya maknanya orang yg sholat tetapi lalai terhadap anak yatim

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita tidak bisa mengada-adakan pengertian dan pemahaman sekehendak Kita, Pak. Jika dalam Surat Al-Maa'uun Ayat 5 artinya "(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya" yah itu lah memang arti sebenarnya, Kita tidak boleh memperluas atau mempersempit pemahamannya sesuai keinginan, semuanya itu harus ada dasar dan panduannya.

      Diatas sudah disampaikan beberapa dasar dan landasan pemikiran yang mendukung pemahaman dan tafsiran dari ayat tersebut, Saya kira itu sudah cukup memadai.

      Salam.

      Hapus
    2. yg benar itu Ayatnya, Tafsirnya tinggal; seberapa luas kita memahami, di dunia ini tidak ada yg mutlak kecuali Alloh SWT

      Hapus
  4. Ya benar. Penjelasan itu sudah cukup memadai dan tidak ada yang perlu dipermasalahkan.

    BalasHapus
  5. Kenalilah diri kita yg sejati, ka'bah yg sebenarnya adalah hati manusia itu sendiri. Jangan pernah kita menyembah nama dan rupa karna semua itu bahru. Lakukan semuanya dengan keihlasan

    BalasHapus
  6. Shalat yang dikerjakan hanya sekedar mengugurkan kewajiban belaku, untuk pamer, ucapan ayat yang dibaca tidak sampai ke hati, tidak khusyuk. itulah sebutan "celakah sholat".

    BalasHapus
    Balasan
    1. orang yg celaka sholatnya itu orang yang tidak di terima sholatnya

      kata orang-orang tua dulu,
      -jangan kamu angkat takbir, kalau kamu belum melihat sholatmu di terima
      -jangan kamu mengingat apapun(tulisan alif lam lam hah/wajah diri sendiri/wajah guru mursyid/ka'bah/pun cahaya) ketika takbir, karena Allah laisa kamisli syai'un
      tambahan = allah itu tidak bisa di misalkan dengan sesuatu, dia bukan gambar dan dia bukan huruf apalagi ka'bah, lebih parah lagi kalau ada yg membayangi wajah guru mursyidnya :v

      Hapus
    2. dalam khusyuk sholat itu pencapaiannya masing",,,karna manusia tdk luput dr kehisupan dunia,

      Hapus
  7. Coba renungi kalimat ke khawatiran Nabi Muhammad صلي الله عليه و سلم, dibawah ini..
    إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ رَجُلٌ قَرَأَ الْقُرْآنَ حَتَّى إِذَا رُئِيَتْ بَهْجَتُهُ عَلَيْهِ، وَكَانَ رِدْئًا لِلْإِسْلَامِ، انْسَلَخَ مِنْهُ وَنَبَذَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ، وَسَعَى عَلَى جَارِهِ بِالسَّيْفِ، وَرَمَاهُ بِالشِّرْكِ»، قَالَ : قُلْتُ : يَا نَبِيَّ اللَّهِ، أَيُّهُمَا أَوْلَى بِالشِّرْكِ، الْمَرْمِيُّ أَمِ الرَّامِي؟ قَالَ : «بَلِ الرَّامِي»
    “Sesungguhnya yg paling aku khawatirkan atas kamu adalah seseorang yg telah membaca (menghafal) Al-Qur’ân, sehingga ketika telah tampak kebagusannya terhadap Al-Qur’ân dan ia menjadi pembela Islam, dia terlepas dari Al-Qur’ân, membuangnya di belakang punggungnya, dan menyerang tetangganya dgn pedang dan menuduhnya musyrik”. Aku (Hudzaifah) bertanya, “Wahai nabi Allâh, siapakah yang lebih layak dinamakan musyrik, penuduh atau yang dituduh?”. Beliau menjawab, “Penuduhnya”.(HR. Bukhâri dalam At-Târîkh, Abu Ya’la, Ibnu Hibbân dan Al-Bazzâr).
    يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِي يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَيْسَتْ قِرَاءَتُكُمْ إِلَى قِرَاءَتِهِمْ شَيْئًا وَلَا صَلَاتُكُمْ إِلَى صَلَاتِهِمْ شَيْئًا وَلَا صِيَامُكُمْ إِلَى صِيَامِهِمْ شَيْئًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَحْسِبُونَ أَنَّهُ لَهُمْ وَهُوَ
    عَلَيْهِمْ لَا تُجَاوِزُ صَلَاتُهُمْ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ
    “Akan ke luar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Al Quran, bacaan kamu di bandingkan dengan bacaan mereka tidak ada apa-apanya, begitu pula shalat & puasa kamu dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka tak ada apa-apanya. Mereka membaca Al Quran dan mengiranya sebagai pembela mereka, padahal ia adalah hujjah yang menghancurkan alasan mereka. Shalat mereka tak sampai ke tenggorokan, mereka lepas dari Islam layaknya melesatnya anak panah dari busurnya.” (HR. Abu Dawud)
    قوم من أمتي يقرئون القرآن يحسبون لهم وهو عليهم لاتجاوز صلاتهم تراقيهم
    “Suatu kaum dari umatku akan ke luar membaca Al Qur’an, mereka mengira bacaan Al-Qur’an itu menolong dirinya padahal justru membahayakan dirinya. Shalat mereka tak sampai kecuali pada kerongkongan mereka.” (HR. Muslim)
    يَأْتِي فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ حُدَثَاءُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ
    “Akan ada di akhir zaman sebuah kaum yg usianya muda, dan pemahamannya dangkal, mereka mengucapkan perkataan manusia yg terbaik (Rasulullah), mereka lepas dari Islam layaknya lepasnya anak panah dari busurnya, iman mereka tidak sampai ke tenggorokan..” (HR Bukhari)

    penjelasan di atas jelas sesuai dgn hadits ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. di indonesia nih udah banyak yang begini,,
      bagaikan buih di lautan

      Hapus
  8. udah lah saudaraku,, gak usah beradu argumentasi
    ingat dalam suatu hadits, tanda-tanda kiamat itu ada banyak banget, salah satunya seperti ini, beradu argumentsi dan merasa benar sendiri
    jangan menjadi orang yahudi dan nasoroh sudaraku,
    kalian itu islam tapi sifat kalian jangan seperti mereka

    beberapa sifat yahudi dan nasoroh itu seperti
    merasa benar sendiri
    marah kalau argumentasinya di patahkan
    dan masih banyak lagi yang melengket sifat-sifat tersebut di hati ummat muslim Indonesia ini

    BalasHapus

Copyright © MUSLIM BLOG

Promoted Link: Nasyid Sponsored By: Gratis Template By: Habib